5 Peserta CPNS Lolos karena Manipulasi?

Ada Anak Pejabat dan Istri Aktivis LSM
KEDIRI- Koalisi Masyarakat Anti Korupsi (Kompak) kemarin membeberkan nama-nama CPNS yang diduga lolos karena terjadi manipulasi data dalam rekrutmen 2009. Dari 440 yang diterima dalam pengumuman 12 Desember, ada lima yang tidak sesuai dengan data Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (LAPI) Institut Teknologi Bandung (ITB). Sebagian di antaranya adalah anak pejabat. Ada pula istri aktivis LSM.

Menurut Ketua DPD KNPI Kota Kediri Umamul Hoir, nama-nama itu bisa lolos setelah nama yang seharusnya masuk versi data LAPI diganti. “Yang mereka gantikan adalah nama-nama yang lolos di rangking terbawah. Namanya berubah, tapi nilainya tetap,” ungkapnya.

Untuk diketahui, pembeberan data ini dilakukan di kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Kota Kediri, Jl Sriwijaya, yang bersebelahan persis dengan rumah pribadi Wali Kota Samsul Ashar. Maklum, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya (Lakpesdam) NU yang tergabung dalam koalisi juga berkantor di sana.

Sambil menunjukkan data yang diklaimnya dari LAPI, Umam lantas menyebut nama-nama yang diduga lolos karena manipulasi tersebut. Di antaranya adalah Atiqoh yang lolos untuk formasi guru pendidikan agama Islam (PAI). Dia bisa lolos karena menggeser nama Gunardi yang seharusnya masuk versi data LAPI.

Kemudian, Meylina Uji Nastiti yang lolos setelah menggeser nama Melda Nisrina pada formasi dokter umum. Juga Hendri Sepriyadi untuk formasi perawat ahli yang menggeser Dyah Wahyuningtyas.

Adapun dua yang lain, lanjut Umam, adalah Aulia Fauzi pada formasi pengendali dampak lingkungan dan Agus Zarqoni Arif pada formasi pengawas operasi alat berat. Masing-masing menggeser nama Diana Yuli dan Luluk Mulyono. “Ini semua data asli dari LAPI ITB,” klaim Umam seraya membandingkannya dengan pengumuman 12 Desember.

Sayang, dia tidak menyebut latar belakang nama-nama tersebut. Namun, penelusuran Radar Kediri, Atiqoh adalah istri Ketua LSM Gerakan Pemuda Nusantara Very Achmad. Sedangkan Meylina putri Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Suprapto, dan Hendri ajudan wali kota. Sedangkan dua nama yang lain masih belum diketahui.

Umam hanya menjamin kebenaran data-data tersebut. Bahkan siap di-cross check dengan siapapun untuk membuktikan. Sebab, mereka juga memegang rangking nilai 13 ribu peserta yang dikoreksi oleh lembaga milik ITB tersebut.

Hal sama ditandaskan Ketua Lakpesdam NU Kota Kediri Syamsul Umam. “Ini A1. Silakan jika ada pihak yang meragukan kebenarannya untuk melakukan cross check,” tantangnya.

Menurutnya, Kompak akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas. Mereka tidak mau kasus ini dijadikan ajang permainan para elite. Karena itu pula, mereka meminta polisi tak segan untuk mengungkap pelaku manipulasi. Aparat diberi deadline satu bulan untuk menuntaskannya. “Januari ini sudah harus ada tersangka,” tandas Umam yang kemarin didampingi anggota koalisi yang lain. Mereka berasal dari sejumlah organisasi mahasiswa dan badan eksekutif mahasiswa (BEM) perguruan tinggi di Kota Kediri.

Sementara itu, Ketua GPN Very Achmad yang dikonfirmasi Radar Kediri membantah jika istrinya lolos secara tidak fair. “Istri saya benar-benar daftar dan mengikuti tes CPNS,” ujarnya.

Terkait dugaan manipulasi data, lelaki yang sering melakukan demo ke pemkot ini mengaku tidak mengetahui. Dia berdalih baru mengetahui istrinya lolos setelah membaca pengumuman 12 Desember di media massa. “Yang menentukan kelulusan itu kan panitia. Jangan salahkan pesertanya,” katanya.

Plt Kepala DPPKA Suprapto yang ditemui wartawan koran ini di balai kota langsung menghindar. Dia berjalan menjauhi koran ini sambil terus berbicara dengan ponsel ditempelkan ke telinga. Setelah itu masuk mobil dan pergi.

Namun, ditemui di Ruang Jayabaya Balai Kota, Selasa (12/1), Suprapto mengaku tidak tahu menahu soal manipulasi data. Dia juga membantah ikut campur dalam penentuan lolosnya sang anak. “Anak saya lolos murni. Saya baru tahu dari pengumuman 12 Desember,” akunya saat itu.

Sedangkan Hendri Sepriyadi, ajudan wali kota, mengaku tidak mengetahui jika pengumuman 12 Desember berbeda dengan data LAPI versi Kompak. “Apa tidak sama?” ujarnya balik bertanya.

Hendri juga mengaku tidak mengetahui penentuan CPNS yang lolos. Sebab, seperti peserta yang lain, dia hanya mendaftar dan mengikuti tes. “Saat saya diterima ya saya bersyukur sekali,” ujarnya.

Terkait kedekatannya dengan Wali Kota Samsul, Hendri membantah jika hal itu memengaruhi kelulusannya. Sebab, semua ditentukan oleh tes. Dan, dia merasa pelaksanaannya objektif. Lalu, bagaimana jika benar namanya merupakan salah satu dari lima orang yang lolos karena terjadi manipulasi? “Saya belum bisa komentar soal itu,” jawabnya.

sumber:radar kediri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s